Senin, November 23, 2015

DRAMA



Drama

v Pengertian Drama
Ø  Drama dipandang sebagai salah satu jenis sastra (drama naskah)
Ø  Drama dipandang sebagai salah satu cabang kesenian yang mandiri (drama pentas)
ü  Drama naskah adalah salah satu jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk cakapan/dialog  yang mengungkapkan/ menggambarkan konflik kehidupan manusia yang mempunyai kemungkinan dipentaskan.
ü  Drama pentas adalah salah satu jenis kesenian mandiri yang merupakan integrasi dari berbagai jenis seni, yaitu seni musik, lampu, lukis (dekor, panggung), kostum, rias,dsb.

v Unsur-unsur Struktur Pembangun Drama      
1. tema                                                        6.   amanat
2. plot (alur)                                                7.   gerak (action)
3. tokoh dan penokohan                             8.   tata busana (tata rias)
4. cakapan/dialog                                        9.   tata panggung
5. latar (setting)                                          10. tata bunyi (tata musik)
                                                                        11. tata lampu

v Plot (alur) dalam drama
1.      Tahap  permulaan/pengenalan/eksposisi
2.      Tahap  pertikaian awal/konflik
3.      Tahap  perumitan/komplikasi
4.      Tahap  puncak/klimaks
5.      Tahap  peleraian/antiklimaks/resolusi
6.      Tahap  akhir/keputusan

1.Tahap  Permulaan/Eksposisi
ü  Tahap ini merupakan tahap pelukisan awal cerita.
ü  Pada tahap ini pembaca/penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama, terutama tokoh utama, dengan wataknya masing-masing.
ü  Pembaca/penonton mulai mendapat gambaran tentang lakon/cerita yang dibaca/ditonton.
2. Tahap  Pertikaian Awal
ü Pada tahap ini tokoh cerita, terutama tokoh utama mulai terlibat dalam satu pokok persoalan.
ü Pada tahap inilah pertama kali muncul insiden/masalah/konflik.
3. Tahap  Perumitan
ü Pada tahap ini para tokoh terlibat dalam beberapa persoalan baru. Tiap watak tokoh tumbuh dan saling mempengaruhi sehingga persoalan semakin rumit.
4. Tahap  Puncak/Klimaks
ü Pada tahap ini persoalan-persoalan/konflik yg terjadi sampai pada keadaan yg paling rumit sehingga mencapai suasana paling menegangkan.
5. Tahap  Peleraian/Antiklimaks/Resolusi
ü Pada tahap ini, konflik yg pada tahap klimaks mencapai puncak ketegangan mulai menurun/mereda.
ü Menurun/meredanya konflik tersebut karena tokoh-tokoh yang mengalami konflik mulai menemukan jalan keluar/pemecahan masalah atau tokoh-tokoh yang meruncingkan konflik/memanaskan situasi telah meninggal.
6. Tahap  Akhir/Keputusan/Catastrophe
ü Pada tahap ini terdapat ulasan penguat terhadap seluruh kisah yang terjadi.
ü Tidak semua drama memiliki keenam tahap alur tersebut, drama-drama modern sering hanya sampai pada tahap resolusi bahkan bisa hanya sampai tahap klimaks tanpa diketahui bagaimana akhir cerita drama tersebut.



v Tokoh dan Penokohan
Tokoh?
ü Individu rekaan yang mengalami lakuan/peristiwa/kejadian dalam sebuah cerita.
ü Macam tokoh berdasarkan peranannya dalam cerita:
1. Tokoh utama
ü Tokoh yang menjadi pusat penceritaan.
ü Terdiri dari tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis).

       2. Tokoh bawahan/Tritagonis
ü  Tokoh tambahan yang berfungsi menghidupkan jalan cerita.
ü  Macam: tokoh yg berpihak pada tokoh protagonis, tokoh yg berpihak pada tokoh antagonis, dan tokoh netral.


Penokohan/Perwatakan
Ø  Cara pengarang melukiskan watak tokoh-tokoh dalam cerita.
Ø  Watak tokoh digambarkan melalui tiga dimensi:
1. Dimensi fisiologis/Keadaan fisik
ü  Umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, cacat jasmaniah, ciri khas yang menonjol, raut muka, tinggi/pendek, kurus/gemuk, suka senyum/cemberut, dsb.
2. Dimensi psikologis/ Keadaan psikis
ü  Watak, kegemaran, temperamen, ambisi, keadaan emosinya, dsb.
3. Dimensi sosiologis
ü  Jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama, ideologi, dsb.

Ø  Teknik/Cara Penggambaran Karakter/Watak Tokoh
1.      Penjelasan langsung pengarang
2.      Penggambaran melalui fisik/bentuk lahir
3.      Penggambaran melalui perilaku tokoh
4.      Penggambaran melalui lingkungan kehidupan tokoh
5.      Penggambaran melalui percakapan tokoh
6.      Penggambaran melalui jalan pikiran dan perasaan tokoh
7.      Penggambaran melalui reaksi tokoh lain

Ø  Contoh:
1.      Penjelasan langsung pengarang
Meskipun Pak Budi memiliki sawah hektaran, rumah bertingkat dan berhalaman luas, puluhan mobil dan perusahaan di berbagai tempat , tetapi ia sangat pelit. Ketika ada pembangunan mesjid di komplek rumahnya,  tak sedikitpun ia memberikan sumbangan. Apalagi para tetangga yang meminta pinjaman tak pernah ia beri.
(Watak Pak Budi : Pelit)

2.      Penggambaran melalui perilaku tokoh
Sekilas Mira melihat pengemis berkaki buntung di depan toko. Segera ia turun dari mobilnya dan menghampiri pengemis tersebut. Dia tersenyum dan membuka dompet yang berada dalam tasnya. Diambilkannya uang seratus ribuan lalu ia berikan pada pengemis itu.
(Watak Mira : Baik hati dan suka menolong)

3.      Penggambaran melalui lingkungan kehidupan tokoh
Terdapat sebuah mushola meski rumah Pak Sukaryo tidak terlalu luas. Alat sholat lengkap berada di dalamnya. Di beberapa ruangan terhiasi berbagai kaligrafi arab.
(Watak Pak Sukaryo : Mementingkan agama)

4.      Penggambaran melalui percakapan tokoh
“Eh, maafkan aku,”ucap Mira. “Maaf maaf, kalau jalan pake mata jangan maen tabrak orang. Lihat buku dan Ipad milikku jatuh. Bagaimana kalau rusak ? mau tanggung jawab ?” bentak Indri. “Tapi aku tidak sengaja.”
(Watak Indri : temperamen/mudah emosi, watak Mira : ceroboh )

5.      Penggambaran melalui jalan pikiran tokoh
Tak seperti orang kaya lain, Pak Sukaryo sadar tidak semua orang seberuntung dia dan keluarganya. Setelah berpikir matang, Pak Sukaryo memutuskan untuk memberikan setengah harta kekayaanya pada beberapa panti asuhan di kotanya.
(Watak Pak Sukaryo :Baik hati )

6.      Penggambaran melalui tokoh lain
Setelah Viky berhasil menyelesaikan soal matematika di papan tulis, semua bertepuk tangan tak terkecuali Robi. “VIk, kamu pintar sekali ” Puji Robi. Viky hanya tersenyum dan kembali ke mejanya.
(Watak Viky : pintar dan murah senyum, watak Robi : pemuji )

v Percakapan/Dialog
Ø Percakapan/Dialog merupakan ciri khas drama.
Ø Ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa  lisan yang komunikatif bukan ragam bahasa tulis.
Ø Dialog dalam drama bersifat estetis, artinya memiliki keindahan bahasa.
Ø Dialog harus hidup, artinya mewakili tokoh yang dibawakan, bisa menggambarkan watak tokoh secara psikologis, sosiologis, maupun fisiologis.

v Setting/Latar
Ø Setting/Latar meliputi tempat, ruang , dan waktu.
Ø Penentuan latar/setting harus diperhitungkan dengan unsur-unsur lain: kostum, tata pentas, tata rias, dan perlengkapan lainnya.

v Petunjuk Teknis (Teks Samping)
Ø Berfungsi memberikan petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana pentas, suara, musik, keluar masuknya pemain, keras lemahnya dialog, perasaan yang mendasari dialog, dsb.
Ø Ditulis berbeda dengan teks dialog, misalnya dengan huruf miring, ditulis dalam tanda kurung.

v Klasifikasi Drama
1. Tragedi (Drama Duka)
2. Komedi (Drama Ria)
3. Melodrama
4. Dagelan

1.      Tragedi (Drama Duka)
ü Drama yang melukiskan kisah sedih tokoh utama.
ü Tokoh utama mengalami nasib tragis.
ü Akhir cerita tokoh protagonis mengalami keputusasaan, kehancuran, atau kematian tokoh protagonis.
2. Komedi (Drama Ria)
ü drama ringan yang sifatnya menghibur, dialognya bersifat kocak, menyindir, dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan.
ü Bersifat humor, tetapi tetap ada dramatik/konflik.
3. Melodrama
Ø Lakon yang sentimental, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan.

4.      Dagelan/Banyolan/Komedi Murahan/Komedi Picisan
Ø Drama kocak dan ringan, alurnya disusun berdasarkan arus situasi, tidak berdasarkan perkembangan struktur dramatik dan perkembangan cerita sang tokoh.
Ø Mementingkan humor.