Senin, Juli 14, 2014

SILOGISME



SILOGISME

  • Silogisme?

ü Penarikan konklusi (kesimpulan) secara deduktif dengan menggunakan dua buah premis
( premis mayor/umum=PU dan premis minor/khusus=PK) yg menghasilkan satu kesimpulan yang logis.
ü Karena silogisme adalah inferensi (penarikan kesimpulan) secara deduktif, maka  konklusinya tidak akan lebih umum daripada premis- premisnya.
ü Premis adalah proposisi-proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan dalam logika.
ü Proposisi adalah suatu pernyataan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti penuh dan utuh.

  • Rumus silogisme:

   PU: semua A=B
   PK: C=A
   K  : C=B
  • Keterangan:
ü kata semua pada PU dapat diganti dengan setiap atau tiap-tiap.
ü PU: menyatakan bahwa semua anggota golongan tertentu (semua A) memiliki sifat atau hal tertentu (B).
ü  PK: menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang (C) adalah anggota golongan tertentu (A).
ü  K  : menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang itu (C) memiliki sifat atau hal tersebut (B).


  • Contoh:
1. PU: Semua orang yang memasuki wilayah SMAK Sang Timur dilarang merokok.
     PK: Lingga memasuki wilayah SMAK Sang Timur.
     K  : Lingga dilarang merokok.
2. PU: Tiap-tiap penumpang bus ber-AC tidak boleh merokok di dalam bus.
     PK: Mahardika penumpang bus ber-AC.
     K  : Mahardika tidak boleh merokok di dalam bus ber-AC.
3. PU: Setiap promosi kesehatan terkendala oleh tidak adanya dana.
    PK: Promosi antirokok adalah promosi kesehatan.
    K  : Promosi antirokok terkendala oleh tidak adanya dana.

  • Contoh 1 & 2 adalah silogisme negatif, sedangkan contoh 3 adalah silogisme golongan.

Ketentuan-ketentuan premis:
  •  Ada tujuh ketentuan premis dalam silogisme yang harus diperhatikan untuk meraih konklusi yang benar.
1. Sebuah silogisme hanya memiliki dua premis (premis mayor/premis umum dan premis                      minor/premis khusus) dan satu konklusi.
2.Premis-premis dalam sebuah silogisme tidak boleh kedua-duanya negatif
            Contoh:
            PU         : Semua hakim bukan polisi.
            PK         : Octavia bukan hakim.
            K           : ?
      3. Apabila kedua premis afirmatif, konklusinya pun afirmatif.
            Contoh:
            PU        :Semua manusia adalah ciptaan Tuhan.
            PK         :Semua petani adalah manusia.
            K           :Semua petani adalah ciptaan Tuhan.
      4. Jika salah satu premis negatif, konklusinya  pun negatif.
            Contoh:
            PU        :Semua manusia bukan kera.
            PK        :Adam adalah manusia.
            K          :Adam bukan kera.
       5. Premis tidak boleh kedua-duanya    partikular (bersifat khusus).
            Contoh:
            PU        : Beberapa manusia adalah  penipu.
            PK        : Beberapa manusia adalah pemberontak.
            K          : ?
        6. Konklusi tidak dapat diambil dari premis  mayor partikular dan premis minor negatif.
            Contoh:
            PU        : Sebagian mahasiswa adalah wanita.
            PK        : Kartono adalah mahasiswa.
            K          : ?
        7. Apabila satu premis partikular, konklusinya pun partikular.
            Contoh:
                       
PU        : Semua filsuf adalah manusia.
            PK        : Plato adalah filsuf.
            K          : Plato adalah manusia.

ENTIMEM
  •  Silogisme yang sempurna terdiri atas dua proposisi,yang berupa premis mayor (PU) dan  premis  minor (PK), dan sebuah konklusi (K).
  • Silogisme tidak sempurna terdiri dari dua jenis:
        Silogisme yang bagian-bagiannya telah dihilangkan
        Silogisme yang sebenarnya terdiri atas beberapa silogisme yang telah digabungkan dalam suatu rangkaian pemikiran tertentu.
  • Entimem adalah silogisme yang salah satu atau kedua unsurnya dihilangkan (PU, PK, Konklusi) karena diangggap telah diketahui semua orang sehingga tidak perlu disebutkan lagi.
  • Contoh:
1.      Terdiri atas PK dan K:
ü Socrates adalah manusia, maka ia dapat mati.
2. Terdiri atas PU dan K:
ü Karena semua manusia fana, Socrates pun fana.
3. Terdiri dari PU dan PK:
ü Setiap warga negara Indonesia wajib membayar pajak dan Kartono pun warga negara Indonesia.
4. Hanya terdiri atas K:
ü Socrates tidak sempurna.
Latihan (PS)
1. Sempurnakanlah silogisme berikut!
    a.       PU: …
             PK: Saya perokok.
             K  : Saya harus melindungi perokok pasif.
    b.       PU: Tiap-tiap industri rokok harus menyediakan dana kesehatan.
             PK: …
             K  : Jadi, Gudang Garam harus menyediakan dana kesehatan.
    c.       PU: Semua industri rokok wajib mematuhi PP No.81/1999.
             PK: …
             K  : …
2. Buatlah dua contoh silogisme golongan dan   dua contoh siogisme negatif!
3. Ubahlah entimem berikut menjadi silogisme!
    a. Pak Habibie pandai karena ia seorang profesor.
    b. Harimau makan daging karena ia binatang buas.
    c. Widya mendapatkan beasiswa masuk ITB.
4. Susunlah entimem yang terdiri atas:
  1. PK dan konklusi
  2. PU dan konklusi
  3. PU dan PK
  4. K saja
(masing-masing dua contoh)!

Sabtu, Mei 17, 2014

DRAMA



Drama
  • Pengertian Drama
Ø  Drama dipandang sebagai salah satu jenis sastra (drama naskah)
Ø  Drama dipandang sebagai salah satu cabang kesenian yang mandiri (drama pentas)
ü  Drama naskah adalah salah satu jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk cakapan/dialog  yang mengungkapkan/ menggambarkan konflik kehidupan manusia yang mempunyai kemungkinan dipentaskan.
ü  Drama pentas adalah salah satu jenis kesenian mandiri yang merupakan integrasi dari berbagai jenis seni, yaitu seni musik, lampu, lukis (dekor, panggung), kostum, rias,dsb.

  • Unsur-unsur Struktur Pembangun Drama      
1. tema                                                        6.   amanat
2. plot (alur)                                                7.   gerak (action)
3. tokoh dan penokohan                              8.   tata busana (tata rias)
4. cakapan/dialog                                        9.   tata panggung
5. latar (setting)                                          10. tata bunyi (tata musik)
                                                                      11. tata lampu
  •  Plot (alur) dalam drama
1.      Tahap  permulaan/eksposisi
2.      Tahap  pertikaian awal
3.      Tahap  perumitan
4.      Tahap  puncak/klimaks
5.      Tahap  peleraian/antiklimaks/resolusi
6.      Tahap  akhir/keputusan

1.Tahap  Permulaan/Eksposisi
ü  Tahap ini merupakan tahap pelukisan awal cerita.
ü  Pada tahap ini pembaca/penonton diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama, terutama tokoh utama, dengan wataknya masing-masing.
ü  Pembaca/penonton mulai mendapat gambaran tentang lakon/cerita yang dibaca/ditonton.
2. Tahap  Pertikaian Awal
ü Pada tahap ini tokoh cerita, terutama tokoh utama mulai terlibat dalam satu pokok persoalan.
ü Pada tahap inilah pertama kali muncul insiden/masalah/konflik.
3. Tahap  Perumitan
ü Pada tahap ini para tokoh terlibat dalam beberapa persoalan baru. Tiap watak tokoh tumbuh dan saling mempengaruhi sehingga persoalan semakin rumit.
4. Tahap  Puncak/Klimaks
ü Pada tahap ini persoalan-persoalan/konflik yg terjadi sampai pada keadaan yg paling rumit sehingga mencapai suasana paling menegangkan.
5. Tahap  Peleraian/Antiklimaks/Resolusi
ü Pada tahap ini, konflik yg pada tahap klimaks mencapai puncak ketegangan mulai menurun/mereda.
ü Menurun/meredanya konflik tersebut karena tokoh-tokoh yang mengalami konflik mulai menemukan jalan keluar/pemecahan masalah atau tokoh-tokoh yang meruncingkan konflik/memanaskan situasi telah meninggal.
6. Tahap  Akhir/Keputusan/Catastrophe
ü Pada tahap ini terdapat ulasan penguat terhadap seluruh kisah yang terjadi.
ü Tidak semua drama memiliki keenam tahap alur tersebut, drama-drama modern sering hanya sampai pada tahap resolusi bahkan bisa hanya sampai tahap klimaks tanpa diketahui bagaimana akhir cerita drama tersebut.

  • Tokoh dan Penokohan
Tokoh?
ü Individu rekaan yang mengalami lakuan/peristiwa/kejadian dalam sebuah cerita.
ü Macam tokoh berdasarkan peranannya dalam cerita:
1. Tokoh utama
ü Tokoh yang menjadi pusat penceritaan.
ü Terdiri dari tokoh baik (protagonis) dan tokoh jahat (antagonis).
       2. Tokoh bawahan/Tritagonis
ü  Tokoh tambahan yang berfungsi menghidupkan jalan cerita.
ü  Macam: tokoh yg berpihak pada tokoh protagonis, tokoh yg berpihak pada tokoh antagonis, dan tokoh netral.

Penokohan/Perwatakan
Ø  Cara pengarang melukiskan watak tokoh-tokoh dalam cerita.
Ø  Watak tokoh digambarkan melalui tiga dimensi:
1. Dimensi fisiologis/Keadaan fisik
ü  Umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, cacat jasmaniah,
         ciri khas yang menonjol, raut muka, tinggi/pendek, kurus/gemuk, suka senyum/cemberut, dsb.
2. Dimensi psikologis/ Keadaan psikis
ü  Watak, kegemaran, temperamen, ambisi, keadaan emosinya, dsb.
3. Dimensi sosiologis
ü  Jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, agama, ideologi, dsb.

  • Percakapan/Dialog
Ø Percakapan/Dialog merupakan ciri khas drama.
Ø Ragam bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa  lisan yang komunikatif bukan ragam bahasa tulis.
Ø Dialog dalam drama bersifat estetis, artinya memiliki keindahan bahasa.
Ø Dialog harus hidup, artinya mewakili tokoh yang dibawakan, bisa menggambarkan watak tokoh secara psikologis, sosiologis, maupun fisiologis.

  • Setting/Latar
Ø Setting/Latar meliputi tempat, ruang , dan waktu.
Ø Penentuan latar/setting harus diperhitungkan dengan unsur-unsur lain: kostum, tata pentas, tata rias, dan perlengkapan lainnya.

  • Petunjuk Teknis (Teks Samping)
Ø Berfungsi memberikan petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana pentas, suara, musik, keluar masuknya pemain, keras lemahnya dialog, perasaan yang mendasari dialog, dsb.
Ø Ditulis berbeda dengan teks dialog, misalnya dengan huruf miring, ditulis dalam tanda kurung.

  • Klasifikasi Drama
1. Tragedi (Drama Duka)
2. Komedi (Drama Ria)
3. Melodrama
4. Dagelan

1.      Tragedi (Drama Duka)
ü Drama yang melukiskan kisah sedih tokoh utama.
ü Tokoh utama mengalami nasib tragis.
ü Akhir cerita tokoh protagonis mengalami keputusasaan, kehancuran, atau kematian tokoh protagonis.

2. Komedi (Drama Ria)
ü drama ringan yang sifatnya menghibur, dialognya bersifat kocak, menyindir, dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan.
ü Bersifat humor, tetapi tetap ada dramatik/konflik.

3. Melodrama
Ø Lakon yang sentimental, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan.

4.      Dagelan/Banyolan/Komedi Murahan/Komedi Picisan
Ø Drama kocak dan ringan, alurnya disusun berdasarkan arus situasi, tidak berdasarkan perkembangan struktur dramatik dan perkembangan cerita sang tokoh.
Ø Mementingkan humor.


  • Bisa dicopy di: wardoyost09.blogspot.com