Selasa, September 10, 2013

KALIMAT PERINTAH



Kalimat Perintah
Ø  Kalimat?
§  Satuan gramatik yang minimal terdiri dari S dan P yang diakhiri intonasi selesai.
 
Ø  Macam-macam kalimat berdasarkan tujuan/sasaran yg ingin dicapai:
               1. kalimat berita/deklaratif,
               2. kalimat tanya/interogatif,
               3. kalimat perintah/imperatif,
               4. kalimat harapan,
               5. kalimat pengandaian.

Ø  Kalimat perintah?
§  Kalimat yang mengandung perintah atau permintaan agar orang lain melakukan suatu hal yang diinginkan oleh orang yang memerintah.
§ Perintah dapat berupa hal mengizinkan seseorang untuk mengerjakan sesuatu, mencegah/melarang berbuat sesuatu.

Ø  Ciri-ciri kalimat perintah:
§  menggunakan intonasi keras, terutama perintah biasa dan larangan;
§  kata kerja yang menyatakan perintah tersebut biasanya berupa kata dasar;
§  menggunakan partikel pengeras –lah.

Ø  Macam-macam kalimat perintah:
Ø  perintah biasa,
Ø  permintaan,
Ø  perintah mengizinkan/ persilahan,
Ø  perintah ajakan,
Ø  perintah sindiran,
Ø  perintah larangan.

1. Perintah Biasa 
    §  menyuruh lawan bicara berbuat/melakukan sesuatu. 
    §  bisa berupa perintah yang lunak sampai perintah yang sangat keras. 
    §  Contoh:
            1. Usir anjing itu!
            2. Usirlah anjing itu!
            3. Pergi!
            4. Pergilah dari sini!
            5. Kerjakanlah soal-soal ini sebaik-baiknya!

2. Permintaan
ü  perintah yang halus, yaitu sikap orang yang menyuruh lebih merendah dari perintah biasa.
ü  Contoh:
1.         Coba dengarkan baik-baik!
2.         Tolong bawa buku itu kemari!
3.         Harap tutup pintu itu!
4.         Kalau boleh, aku pinjam kalkulatormu!
5.         Sudikah Tuan memberi mereka pekerjaan?
6.         Bolehkah saya minta bantuan Anda membaca buku ini?
7.         Diminta dengan hormat, supaya Anda pergi dari sini!

3. Perintah Mengizinkan/ persilahan
ü perintah biasa yang menyatakan memberi izin atau mempersilahkan seseorang melakukan/berbuat sesuatu.
ü Contoh:
            1. Ambillah buku itu!
            2. Masuklah ke dalam, kalau Tuan perlu!
            3. Silahkan datang ke rumahku!
            4. Silahkan beristirahat!

4. Perintah Ajakan
ü  perintah yang menyatakan ajakan.
ü  Contoh:
            1. Marilah kita istirahat sebentar!
            2. Ayolah kita berangkat sekarang!
            3. Baiklah kita pergi sekarang!

5. Perintah Sindiran/ejekan
ü  perintah yang mengandung sindiran/ejekan karena kita yakin bahwa yang diperintah tidak mampu melaksanakan hal yg diperintahkan.
ü  Contoh:
1. Kerjakan itu sendiri, kalau memang    kamu bisa!
2. Pukullah dia, kalau kamu berani!
3. Bawalah barang-barang itu,kalau kamu kuat!

6. Perintah Larangan
ü  perintah yang menyatakan melarang seseorang melakukan/berbuat sesuatu.
ü  Contoh:
1. Dilarang merokok!
2. Jangan membuang sampah sembarangan!
3. Dilarang makan di dalam kelas!
4. Jangan berisik! 

ü  Kalimat Seru
ü  kalimat yg menyatakan perasaan hati, kekaguman, atau keheranan terhadap suatu hal.
ü  Contoh:
ü  Tinggi sekali gunung itu!
ü  Sungguh tinggi gunung itu!
ü  Betapa tinggi gunung itu!
ü  Alangkah tinggi gunung itu!
ü  Betapa indahnya gunung itu! 

            Latihan (PS)
            1. Susunlah masing-masing tiga kalimat:
      1. perintah biasa,
      2. permintaan,
      3. perintah mengizinkan/ persilahan,
      4. perintah ajakan,
      5. perintah sindiran,
      6. perintah larangan.
2. Susunlah lima macam kalimat seru!
3. Susunlah sebuah paragraf dengan menggunakan kalimat perintah biasa, permintaan, perintah mengizinkan!
4. Susunlah sebuah paragraf dengan menggunakan kalimat perintah ajakan, perintah sindiran, perintah larangan!

Senin, September 09, 2013

KRITIK SASTRA



Kritik Sastra
Kritik sastra?
v  Kritik sastra merupakan salah satu bidang studi sastra yang langsung berhadapan dengan karya sastra, secara langsung membicarakan karya sastra dengan penekanan pada penilaiannya.
Ø  Studi sastra meliputi tiga bidang, yaitu teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra.
Ø  Aspek-aspek kritik sastra adalah:
§  Analisis
§  Interpretasi/penafsiran
§  Evaluasi/penilaian
Ø  Karya sastra merupakan sebuah struktur yang kompleks, maka untuk memahaminya perlu adanya analisis, yaitu penguraian terhadap bagian-bagian atau unsur-unsurnya.
Ø  Karya sastra terdiri dari struktur yang kompleks, pemikiran-pemikiran yang rumit, dan ditulis dengan medium bahasa yang rumit. Oleh karena itu karya sastra perlu ditafsirkan untuk memperjelas artinya.
Ø  Penafsiran/interpretasi karya sastra dalam arti luas adalah penafsiran kepada semua aspek karya sastra.
Ø  Dalam arti sempit, penafsiran/interpretasi karya sastra adalah penjelasan arti bahasa sastra dengan sarana analisis, parafrase, dan komentar,biasanya terpusat pada kegelapan, ambiguitas, dan bahasa kiasannya.
  • Sebuah karya sastra adalah sebuah karya seni. Oleh krena itu perlu diterangkan seperti apa nilai seni karya sastra itu.
Ø  Untuk menganalisis, menafsirkan, dan menilai karya sastra didasarkan pada orientasi karya sastra. Orientasi karya sastra meliputi:
§  orientasi mimetik
§  orientasi pragmatik
§  orientasi ekspresif
§  orientasi objektif
§  Orientasi mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, ataupun representasi alam atau kehidupan. Orientasi ini mendasarkan kriteria penilaian pada “kebenaran” dari objek-objek yg digambarkan/yg hendak digambarkan.
§  Orientasi pragmatik memandang karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca. Orientasi ini cenderung menimbang nilai berdasarkan pada berhasilnya mencapai tujuan.
§  Orientasi ekspresif memandang karya sastra sebagai ekspresi, luapan, ucapan perasaan sebagai hasil imajinasi pengarang, pikiran-pikiran, dan perasaannya. Orientasi ini cenderung menimbang dengan keaslian atau kecocokan dg keadaan pikiran dan kejiwaan pengarang.
§  Orientasi objektif memandang karya sastra sebagai sesuatu yg mandiri artinya tidak dikaitkan dengan pengarang, pembaca, dan dunia sekelilingnya. Orientasi ini cenderung menerangkan karya sastra  didasarkan pada unsur-unsur yg membentuk karya sastra.
§  Manfaat kritik sastra:
§  perkembangan ilmu sastra
§  perkembangan kesusastraan
§  untuk kepentingan masyarakat yg menginginkan penerangan tentang karya sastra.


PIDATO



BERPIDATO

v Pidato?
Penyampaian informasi secara lisan tentang suatu hal/masalah di hadapan massa.
v Bagian/struktur pidato
1.   Pembuka
2.   Isi
3.   Penutup
v Langkah-langkah pidato
1. Menyelidiki pendengar, dg berpedoman pada pertanyaan 5W + 1 H.
2. Memilih topik/tema
3. Mengumpulkan bahan
4. Membuat kerangka pidato
5. Menyusun naskah pidato
6. Latihan pidato
v  Metode berpidato
1.   Metode impromtu/serta merta: pembicara berpidato tanpa persiapan.
2.   Metode naskah: pembicara membaca teks/naskah yang telah disiapkan.
3.   Metode hafalan: pembicara menghafalkan naskah pidato.
4.   Metode ekstemporan: pembicara menggunakan catatan-catatan penting/kerangka.
v  Tujuan pidato
1.   Menyampaikan informasi/informatif
2.   Menghibur/rekreatif
3.   Meyakinkan pendengar/argumentatif
4.   Membujuk/persuasif

I.  Bagian Pembuka Pidato
Ø Peran/fungsi pembuka pidato:
1.   Berkomunikasi dengan pendengar
2.   Menarik perhatian dan simpati pendengar
3.   Mengantar pendengar pada persoalan
Ø Syarat-syarat pembuka pidato yang baik
1. singkat/tidak terlalu panjang
2. harus menarik
3. berkaitan dengan isi

Ø Kiat/cara membuka pidato
   1. Mengucapkan rasa syukur
   2. Menceritakan pengalaman
            3. Menyampaikan cerita ilustrasi
            4. Membuat humor/cerita lucu
            5. Memperkenalkan diri
            6. Menyampaikan gambaran umum
            7. Menyebutkan fakta pendengar
            8. Menyebutkan contoh nyata
            9. Menyampaikan kutipan
            10. Melibatkan pendengar
            11. Menunjukkan benda peraga

1.   Mengucapkan rasa syukur
§ Sudah sangat lazim digunakan
§ Contoh:
Marilah terlebih dahulu kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sehingga pada pagi yang cerah ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat walafiat untuk melaksanakan…

2. Menceritakan pengalaman
§ Setelah mengucapkan salam dan kata-kata sapaan,pembicara langsung menyampaikan pengalamannya yang berhubungan dengan isi pidato.
§ Pengalaman yang disampaikan tidak perlu disampaikan apa adanya, tetapi dapat diolah. Artinya dapat ditambah, dikurangi, atau dapat diubah sesuai kebutuhan agar lebih menarik dan cocok dengan isi pidato.
§ Contoh:
Suatu hari, ketika pulang dari sekolah, saya melihat ada tanaman hias di ruang tamu. Daun-daunnya rimbun berwarna hijau segar dan bunganya kuning berbintik-bintik merah. Bagus sekali. Karena merasa sayang kalau sampai layu, tanpa pikir panjang bunga indah itu saya siram air. Lho, kok, airnya tak mau turun meresap? Saya amati dengan teliti. Wah, ternyata bunga di pot itu bunga polastik yang hampir tak ada bedanya dengan bunga asli. Teknologi pembuatan bunga plastik sudah demikian majunya sehingga dapat mengecoh manusia yang ceroboh seperti saya. Teknologi memang selalu berkembang. Contoh nyata dapat kita lihat di sekitar kita. Misalnya…

3. Menyampaikan cerita ilustrasi
§ Bukan cerita pengalaman, tetapi cerita umum
§ Contoh:
            Dahulu ada seorang pemuda kerempeng menggembala dua ratus kambing di padang yang luas. Suatu hari seorang pedagang mendatanginya. Terjadilah dialog sebagai berikut. Pedagang: Maaf, saya hanya penggembala. Ini bukan kambing saya. Pedagang: Tidak apa-apa. Majikanmu tidak akan tahu. Pemuda: Meskipun tidak akan tahu, saya tidak akan menjual kambing yang bukan milik saya. Pedagang: Bagus! Kamu memang pemuda jujur.
            Saudara-saudara, pemuda kerempeng tadi telah menunjukkan sifat jujur dan dapat dipercaya. Jujur adalah…

4. Membuat humor
§ Dapat dilakukan bila situasinya tidak terlalu resmi.
§ Syarat:
ü Harus yakin bahwa humornya manjur sehingga pendengar bisa tertawa.
ü Harus sopan, tidak melanggar tata susila.
ü Harus relevan dengan masalah yang disampaikan.
ü Sebaiknya humor segar/baru.
ü Harus disampaikan tepat waktu, tepat tempat, dan tepat sasaran.
§ Contoh:
Tetangga saya yang berdagang telur tubuhnya gemuk sekali. Suatu hari saya tanya, “Kau gemuk sekali, sering makan telur ya? “Tidak”, jawabnya, “ Saya gemuk karena berdagang telur, kok.” Berdagang merupakan kegiatan yang mengasyikkan. Jenis usaha ini dapat dilakukan...

5. Memperkenalkan diri
§ Biasanya dilakukan oleh pembicara yang masuk ke lingkungan baru untuk menjelaskan masalah tertentu.
§ Contoh:
Agar pertemuan ini lebih komunikatif, lebih dahulu perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Lingga Indrasta Mahardika. Panggilan akrabnya Lingga. Sejak tiga bulan yang lalu saya menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan di wilayah Kecamatan Kebonarum. Sebelumnya saya bertugas di Kecamatan Muntilan. Saya asli orang Klaten, lahir di Klaten, bersekolah di Klaten dan bekerja di Klaten pula. Dua minggu yang lalu saya mengikuti penataran tentang budidaya salak pondoh dengan teknik baru di Jogya. Oleh-oleh dari Jogya itulah yang akan saya sampaikan kepada Bapak-bapak siang ini. ...

6. Menyampaikan gambaran umum
§ Pembicara hanya menyampaikan persoalan umum berkaitan dengan isi pidatonya. Dari persoalan umum kemudian mengarah ke persoalan yang lebih khusus. Kemudian pembicara langsung menyampaikan isi pidato yang berupa penjabaran/ rincian masalah.
§ Contoh:
Belajar adalah perbuatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, baik di dalam maupun di luar sekolah, dan berlangsung seumur hidup. Jadi, yang namanya belajar, tidak harus dilakukan di sekolah, tetapi juga dapat dilakukan di rumah atau di mana saja. Juga, belajar itu tidak hanya dilakukan anak-anak dan remaja, tetapi juga dapat dilakukan olehj orang tua. Dengan demikian tidak ada istilah terlambat dalam belajar. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang telah memahami dan menyadari perlunya belajar. Buktinya, pagi ini dengan sukarela dan penuh semangat Bapak-bapak dan Ibu-ibu berkumpul di balai desa ini untuk belajar. Belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kita, yaitu masalah…

7. Menyebutkan fakta pendengar
§ Pembicara menyampaikan keadaan pendengar, terutama keadaan yg baik-baik, mulai dari penampilan, pakaian, kehadiran, semangat, sampai pada sorot matanya.
§ Contoh:
            Setiap kali bertemu dengan kalian, saya selalu merasa senang dan bangga. Mengapa? Ada dua hal yang menyebabkan saya bangga. Pertama, kalian selalu tampak ceria. Kedua, kalian selalu tampak bersemangat. Keceriaan dan semangat yang besar itu, yang terpancar dari sorot mata kalian , merupakan modal penting untuk menggapai prestasi melalui sekolah yang kita banggakan ini. Akan tetapi, itu saja belum cukup. Ada hal lain yang harus kalian patuhi, yaitu tata tertib sekolah. Kalian…

8. Menyebutkan contoh nyata
§ Pembicara menyampaikan peristiwa nyata, lebih-lebih kisah nyata yang dramatis. Pembicara boleh membubui peristiwa tersebut supaya bisa menjadi dramatis.
§ Contoh:
Dua minggu yang lalu, di sekolah kita belajar ini, ada peristiwa mengejutkan sekaligus menyedihkan. Sebuah sepeda motor masih baru, milik salah seorang siswa, hilang. Sampai sekarang belum ditemukan. Setelah diteliti sebab-sebabnya, ternyata prasarana keamanan sekolah ini masih rapuh, terutama gerbang di depan belum ada pintunya. Tidak adanya pintu yang dapat dikunci itu menyebabkan pihak luar dapat keluar masuk dengan leluasa. Berkaitan dengan itu, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, marilah kita pikirkan bersama…

9. Menyampaikan kutipan
§ Pembicara bisa menyampaikan kutipan pendapat tokoh, peribahasa, semboyan, buku, kitab suci, kutipan puisi, atau syair lagu.
§ Contoh:
Bung Karno pernah berkata lantang,” Beri aku seratus pemuda, akan kugoyang dunia.” Pemuda memang mempunyai kekuatan besar. Saudara-saudara yang semuanya pemuda…

10. Melibatkan pendengar
§ Situasinya tidak terlalu resmi.
§ Berupa: menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, menunjukkan sesuatu, atau hanya berdiri sebentar.
§ Contoh:
Siswa-siswi, tadi dalam perjalanan menuju ke sekolah, kalian tentu melihat Pak Polisi mengatur arus lalu lintas. Siswa yang duduk di depan saya ini, ayo maju ke depan sebentar. Siswa A, tolong peragakan Pak Polisi sedang mengatur arus lalu lintas. Kemudian, siswa B, coba jelaskan mengapa Pak Polisi perlu mengatur arus lalu lintas. Bagus-bagus sekali. Tepuk tangan saudara-saudara. Saudara-saudara, disiplin memang perlu. Disiplin bukan hanya ...

11. Menunjukkan benda peraga
§ Benda yang ditunjukkan erat hubungannya dengan masalah yang sedang dibahas.
§ Contoh:
Saya mempunyai tanaman kecil dalam pot kecil. Ini tanamannya. Saya tanam dan saya pelihara di kantor polisi sejak tiga minggu yang lalu. Sekilas seperti tanaman lombok. Tapi bukan lombok. Ini tanaman ganja, jenis tanaman yang menimbulkan berbagai masalah itu. Ganja memang…

v Pemilihan cara membuka pidato ditentukan   berdasarkan:
§ Kemampuan dan selera pembicara
§ Sesuai dengan pendengar/hadirin
§ Sesuai dengan situasi
§ Sesuai dengan topik dan tujuan pidato


II. Bagian Isi Pidato
v Isi pidato berupa:
1.   Penjelasan dari pokok-pokok persoalan yang dibahas, bisa dengan cara: menerangkan, mendefinisikan, menanyakan & menjawab, membandingkan, memberi alasan, memberi contoh/bukti, menunjukkanbenda peraga.
2.   Mempengaruhi/meyakinkan
3.   Mengajak
4.   Menghibur

III. Bagaian Penutup Pidato
v Menutup pidato dapat dilakukan dengan cara:
§  Menyimpulkan
§  Menggarisbawahi/menegaskan kembali inti persoalan
§  Memuji pendengar & mengucapkan terimakasih
§  Menyampaikan kalimat-kalimat lucu
§  Meminta pendengar untuk bertindak/melakukan sesuatu
§  Menyampaikan ungkapan terkenal
§  Melantunkan pantun, syair, puisi, lagu
§  Menyatakan harapan-harapan

v Tugas:
  1. Susunlah sebuah kerangka pidato dengan tema bebas!
  2. Kembangkan kerangka pidato Anda menjadi naskah pidato dengan durasi minimal empat menit!
  3. Sampaikan pidato Anda di depan teman-teman Anda dengan menggunakan metode hafalan/ ekstemporan!
Ø  Aspek penilaian:
            1. Cara/kiat membuka pidato
            2. Kejelasan vokal, intonasi, tempo
            3. Cara/kiat menutup pidato  
            4. Ekspresi/mimik, gerak-gerik
            5. Kualitas isi